Rabu, 25 Juli 2012

LESMANA (Antara Sumpah dan Kewajiban)


Lesmana adalah saudara muda dari Ramabadra, yang terlahir dari tunggal ayah dan lain ibu. Ia adalah putra Prabu Dasarata yang merupakan raja dari negara Madyapura dengan permaisurinya Dewi Lesmanadari. Pada waktu Leksama dilahirkan, Dewi Lesmanadari diculik oleh Dasamuka dan dibawa ke negeri Alengka, sehingga Leksmana terpaksa memperoleh air susu dari Mulyandari. Dewi Mulyandari adalah wanita yang menyusui Ramabadra, sehingga tidaklah heran ketika Ramabadra dan Leksamana memiliki hubungan yang sangat erat, sebab mereka dibesarkan dari air susu yang sama pula.

Kedekatan hubungan yang terjalin antara Leksmana dan Ramabadra pun terlihat sejak mereka masih kecil. Potret kedekatan mereka ditunjukan dengan diperolehnya pusaka yang kelak digunakan sebagai senjata mereka secara bersama-sama. Ramabadra mendapat pusaka Wijayastra dari Bathari Wisnu, sedangkan Leksmana memperoleh senjata yang berupa panah Aryasengkali dari Bhatara Basuki.
Leksama tergolong tokoh wayang alusan dengan karakter luruh dan posisi muka tumungkul. Sosok Leksmana digambarkan dengan bentuk mata liyepan,   hidung  walimiring, serta mulut salitan. Ia mengenakan mahkota gelung sapit urang dengan hiasan turida, jamang, dan memakai sumping mangkarai, serta rembing.

Disisi lain, pada badan alusan,  Laksmana mengenakan kalung tanggalan, dengan posisi kaki pocong polos yang bermotif semen jrengut seling gurda. Disamping itu, terdapat atribut yang melengkapi Leksaman pada bagian badan yaitu kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, dan memakai keroncong. Pada umumnya, Laksmana ditampilkan dengan sunggingan brongsong.

Leksmana sejatinya merupakan tokoh yang takberistri. Hal tersebut terlihat dalam penggalan cerita Ramayana ketika Ramabadra dan istrinya berdiam diri di hutan atas perintah orang tuanya. Ketika Ramabadra dan Dewi Sinta berdiam diri di hutan, dewi sinta meminta kijang kecana yang saat itu sedang diburu oleh  Ramabadra. Pada saat setelah terkena panah dan terluka, kijang kencana tersebut berubah menjadi Kalamarica dan berteriak. 

Suara teriakan Kalamarica yang sangat keras dikira oleh Dewi Sinta adalah suara dari Ramabadra yang memperoleh halangan. Seketika itu pula, Dewi Sinta meminta kepada Leksmana untuk menyusul kakandanya, tetapi Leksmana tidak mau karena telah mengemban mandate untuk tidak meninggalkan Dewi Sinta sendiri di dalam hutan. Ketidakmauan Leksaman untuk pergi menyusul Ramabadra membuat Dewi Sinta marah dan beranggapan bahwa Leksaman akan mengawini dirinya secara diam-diam. Mendengar perkataan Dewi Sinta yang begitu memekikan talinga, seketika itu pula Leksmana bersumpah untuk tidak akan menikah selamanya.

Sumber:
Sunarto, Drs, M.hum, dan Sagio. 2004. Wayang Kulit Gaya Yogyakarta Bentuk dan Ceritanya. Yogyakarta: Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

F. Widjanarko


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar